Sepak bola modern bertumpu pada lapangan
tengah. Tim yang menguasai lapangan tengah hampir pasti selalu tampil
ciamik, menuai kemenangan dan memanjakan striker. Sebut saja Messi yang
begitu cemerlang di Barcelona. Pemain muda berjuluk bocah ajaib ini
dianggap tidak akan mampu mencetak banyak gol tanpa kehadiran Xavi
Hernandes di lini tengah. Maka masuk akallah sudah mengapa Lionel tidak
sangat bersinar di tim tango Argentina. Tim ini akhir-akhir ini tidak
punya pemain hebat yang menjadi pengatur irama di lini tengah. Juan
Roman Requelme tidak lagi pada penampilan terbaiknya sementara Pastore
tidak cukup mampu mengemban tugas itu.
Demikianlah sepak bola modern bertumpu pada lapangan tengah, tempat di
mana irama permainan diatur sesuka hati, cepat, melambat, sedang atau
mendikte lawan. Bahkan sepak bola Inggris yang dikenal dengan kick and
rush dan mengandalkan bola-bola panjang sekarang sudah merasakan tidak
‘menggigitnya’ formula tersebut pada penampilan mereka. Meski Rooney
adalah striker hebat, tetapi tanpa dukungan ‘memanjakan’ dari lapangan
tengah, striker gempal ini lebih sering menjadi penjemput bola daripada
pencetak gol. Perolehan golnya lumayan banyak untuk musim ini, namun
sebagian di antaranya adalah dari servis bola mati, tendangan pinalti
dan tidak dari open play.
Ya, Manchester United adalah bukti nyata tentang betapa sepakbola modern
adalah solidnya lapangan tengah. Kegagalan mereka memuncaki klasemen
sementara di Liga Inggris disebut-sebut disebabkan oleh cederanya
beberapa pemain yang bertugas sebagai jenderal lapangan tengah. Anderson
dan Cleverly tidak banyak tampil musim ini, United terpaksa harus
memanggil kembali Scholes yang sudah memutuskan untuk pensiun.
Man United tidak punya playmaker yang mumpuni sementara City kelimpahan.
David Silva, Samir Nasri dan beberapa nama lain membuat tim yang oleh
pelatih MU Sir Alex Ferguson disebut sebagai tetangga berisik ini tampil
hebat. Balotelli, Dzeko, Kun Aguiero hanya bertugas mencetak gol dan
bukan sebagai penjemput bola. Hasilnya? City untuk sementara ini
mendominasi.
Saya tiba-tiba ingat penampilan Garuda Muda di final Sea Games XXVI
beberapa waktu lalu. Egi Melgiansyah dan kawan-kawan berhadapan dengan
anak-anak dari negara tetangga Malaysia. Semua pasti sepakat, lapangan
tengah ketika itu dikuasai oleh Malaysia. Sama-sama memakai ban kapten,
Badrol Bakhtiar lebih cerdas dibandingkan Egi, padahal Patrich Wanggai
dan Titus Bonai jauh lebih hebat dibanding striker-striker Malaysia.
Hasilnya, Malaysia menang dan kita harus puas dengan gelar juara umum
ajang multi event itu tanpa medali emas dari cabang sepakbola.
Apa artinya? Sederhana. Tugas pelatih menjadi mudah jika memiliki pemain
dengan talenta luar biasa di lapangan tengah. Pep Guardiolla dan
Roberto Mancini tidak akan berjumawa ketika Xavi, Iniesta, David Silva
atau Yaya Toure tidak bisa ikut bermain. Pun Rahmad Darmawan tidak bisa
berbuat banyak melawan Malaysia, ketika tidak punya pilihan lain selain
Egi di lapangan tengah. Indonesia pernah punya (hanya) dua pemain
bertipikal playmaker dan layak disebut jenderal lapangan tengah. Mereka
adalah Fachri Husaini yang membuat Widodo C. Putra terkenal seantero
Asia di zaman dahulu dan Eduard Ivak Dalam yang memanjakan Kurniawan Dwi
Yulianto dan Bambang Pamungkas di zaman setelahnya. Mereka pergi, kita
kehilangan greget di lapangan bola bahkan di depan publik sepak bola
sendiri.
Maka, tidak perlu heran mengapa Persipura Jayapura mendominasi sepak
bola tanah air. Selain karena faktor Jacksen F. Tiago, di sana ada
Zahrahan Krangar, pemain dengan tingkat inteligensia di atas rata-rata
pemain lainnya di negeri ini. Dan hari-hari selanjutnya, Boaz, Tibo dan
Lukas Mandowen akan semakin dimanja menyusul kembalinya Manu Wanggai,
playmaker muda lainnya dari cedera panjang. Wanggai disebut-sebut
sebagai generasi berikut playmaker Indonesia setelah Ivak Dalam. Di
Inggris, Ferguson boleh bernafas lega. Tom Cleverly telah kembali. Usaha
mengejar dan menyalib Manchester City akan lebih mudah, karena sepak
bola modern itu soal lapangan tengah.
Oops… satu lagi. Berhentilah berpolitik dalam sepak bola, karena kalau
tetap berpikir tentang legal atau tidak, timnas kita mungkin akan
bermain tanpa playmaker karena beberapa pemain dengan tipikal ini justru
bermain di liga yang dianggap tidak legal. Manu Wanggai itu pemain
Persipura, lho…! Salam olahraga.